• Culinary
  • Culture
  • Festival
  • Heritage
  • Human Interest
  • Follow us on Twitter

Jakarta Corners

Exploring Jakarta

  • Home
  • Author
    • Salman
    • Evi Indrawanto
    • Katerina
    • Dewi Rieka
    • Shintaries
  • About
  • Contact Page
You are here: Home / Heritage / Museum Di Tengah Kebun Kemang Jakarta

Museum Di Tengah Kebun Kemang Jakarta

August 3, 2025 by Shintaries Nijerinda 9 Comments

Tidak seperti museum yang dikelola pemerintah pada umumnya, museum ini adalah milik pribadi seorang pebisnis yang sangat terkenal di kalangan sosialita Jakarta dan dunia periklanan. Berawal dari kecintaan terhadap barang antik, beliau kemudian memiliki niat mulia untuk mengembalikan barang antik milik Indonesia yang tersebar di seluruh dunia.

Museum cantik yang dinamakan Museum Tengah Kebun ini terletak di Kemang Timur 66 Jakarta Selatan. Didirikan oleh Bapak Sjahrial Djalil, seorang yang sangat berpengaruh di bidang periklanan Indonesia. Beliau berkeliling dunia mengikuti lelang untuk mengambil kembali warisan arkeology milik kebudayaan asli Indonesia. Mulai dari jaman peninggalan Belanda, sampai arca-arca candi yang banyak dicuri.

Pada awalnya, museum ini adalah rumah pribadi Bapak Sjahrial Djalil yang khusus dibangun untuk menyimpan semua koleksinya. Kemudian, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, dibukalah rumah tersebut untuk umum dan gratis. Sampai saat ini sudah ribuan koleksi yang sudah didapatkan. Mulai dari Jaman Turasik, Batu, Abad Dua Puluh, dan juga koleksi peradaban lain seperti Tiongkok dan Islam.

Berkelana Menyusuri Masa Lampau

Bentuk tanah yang bottle neck, membuat pengunjung harus melewati gang kecil untuk bisa sampai di museum. Saat melewati pagar, langsung terasa perbedaan suasana dari luar dan dalam museum. Tidak berlebihan rasanya kalau Bapak Mirza Djalil, guide museum, mengatakan bahwa ini seperti masuk ke dalam lorong waktu.

Bangunan museum berdiri di atas tanah seluas 4200 m2 dengan luas bangunan 700m2. Sehingga museum dikelilingi oleh kebun yang sangat asri dan ditata dengan apik. Dari sinilah nama Museum Tengah Kebun berawal. Bangunan museum sangat modern dan juga kebunnya sudah memakai sistem resapan biopori sehingga siap menampung jumlah air hujan yang berlebih.

Terdapat lebih dari 2800 koleksi yang sudah dikumpulkan selama 42 tahun. Barang ini didapat oleh Bapak Sjahrial dari hasil lelang yang dikumpulkannya dari seluruh dunia. Bapak Sjahrial telah berkeliling selama 26 kali untuk mengunjungi balai lelang di berbagai kota di Eropa, Hong Kong, Amerika, dan Australia. Total seluruh koleksinya berasal dari 63 negara dan 21 provinsi di Indonesia.

Museum ini sangat berbeda dengan museum lainnya yang dikelola pemerintah. Sebagai rumah sekaligus tempat tinggal, museum sangat tertata rapi dan bersih. Semua hasil koleksi terawat dengan baik dan ditempatkan sesuai dengan kelompoknya. Tidak heran kalau museum ini mendapatkan penghargaan sebagai Museum Swasta Terbaik dari ajang Museum Award 2013.

Penempatan koleksi juga ditata secara apik. Mulai dari patung-patung yang ditempel di dinding, sampai batu bata yang terdapat diluar bangunan juga berasal dari jaman sejarah. Setiap koleksi ada label nama dan tahun sebagai identitas benda. Jangan khawatir jika tidak dapat dimengerti, karena tersedia guide yang menjelaskan setiap ruangan dan benda-benda yang ada di museum tersebut.

Lamanya menjelajah ruangan demi ruangan tidak lebih dari tiga jam. Karena banyaknya sisi-sisi sejarah dan ruangan yang ada, terkadang mampu membuat pengunjung terpesona dengan koleksinya yang beragam. Dan perlu diketahui bahwa tidak semua tempat dapat diabadikan sehingga harus dengan seijin guide.

Beberapa isu “penunggu” juga sempat menghantui museum ini. Kisah aneh dan tidak masuk akal banyak diceritakan oleh guide. Oleh karena itu, untuk keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung, maka usia terendah yang boleh masuk ke museum ini adalah setara Sekolah Menengah Pertama. Bagi pengunjung usia Sekolah Dasar sudah tidak diperbolehkan lagi mengunjungi museum.

Waktu Berkunjung

Untuk berkunjung ke museum ini sangat mudah. Cukup membuat reservasi ke 021-7196907 atau HP 087782387666 untuk rombongan minimal 7 orang dan maksimal 15 orang. Kemudian menitipkan uang jaminan sebesar Rp200.000 yang akan dikembalikan pada saat kunjungan. Ini untuk mengantisipasi pembatalan secara mendadak.

Pilihan hari berkunjung hanya tersedia pada hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Dibagi dalam dua grup yaitu jam 09.00-12.00 WIB dan jam 12.30-15.30 WIB. Waktu kedatangan harus tepat dengan perjanjian , tidak boleh terlambat. Dikarenakan ada banyak rombongan yang datang, sehingga diharapkan akan selesai sesuai jadwal. Bagi para pengunjung tersedia minuman yang disediakan secara gratis.

Siap untuk menjelajah waktu di museum antik ini?

Share this:

  • Email
  • Facebook
  • Google
  • Twitter
  • Print

Related

Filed Under: Heritage Tagged With: Jakarta, Museum

Hangout di Kota Tua Batavia »

About Shintaries Nijerinda

Mainstream Traveller

Facebook | Twitter | Blog

Comments

  1. Salman Faris says

    August 4, 2025 at 12:56 pm

    Ini semacam museum pribadi yang patut di dukung, jarang ada yang peduli pada situs2 atau peninggalan sejarah, keren

    Reply
  2. Djangkaru Bumi says

    August 4, 2025 at 3:08 pm

    Semoga lain waktu bisa kesana.

    Reply
  3. Muhammad Akbar says

    August 5, 2025 at 6:10 am

    Terbuka untuk gratis tapi kok ada bayaran 200 rb?
    Kalau datang kesini, bisa gak reservasi dulu?
    Bisa gak datang kalau cuma sendiri?

    Reply
    • Shintaries Nijerinda says

      August 5, 2025 at 6:27 am

      200rb hanya sebagai jaminan deposit aja, supaya pada datang sesuai perjanjian. Mungkin kebanyakan batal mendadak.

      Iya kalau ke sini harus reservasi dulu. Kalau sendiri bisa telpon dan diikutkan dengan rombongan yang datang di hari yang sama

      Reply
  4. nunik utami says

    August 10, 2025 at 6:36 pm

    Aduuhh udah lama pengen ke sini. Pas baca ini jadi inget lagi, keinginan itu belum terlaksana. Keren banget nih kayaknya.

    Reply
  5. indah nuria savitri says

    October 14, 2025 at 6:05 pm

    Unik yah museum di tengah kebun.. Dan Jakarta perlu banyak hal serupa niih

    Reply
  6. syaifuddin sayuti says

    October 20, 2025 at 11:12 pm

    wah belum sempat kemari padahal dulu sempat diajak sama ponakannya pak Syahrial. Dasar belum jodoh….

    Reply
  7. bersapedahan says

    October 28, 2025 at 3:16 pm

    pengin kesini tapi belum kesampean mulu
    eh … sekarang malah ga boleh bawa anak SD … yaaaa

    Reply
  8. Apuria Bethan says

    November 25, 2025 at 6:36 pm

    Reservasi nya harus datang langsung ke sana yaaa sambil kasih uang jaminan?
    Saya sudah coba tlp tp ga ada yg angkat terus, yg no hp jg sudah tidak aktif lg sepertinya.
    Ditunggu balasannya kak, terimakasih

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributors

  • Salman Faris
  • Donna Imelda
  • Evi Indrawanto
  • Katerina
  • Dewi Rieka
  • Shintaries Nijerinda

Latest Corner

  • Telisik Imlek Blog Competition
  • Tour Bersama Hotel Grand Zuri BSD dan Blogger
  • Jakarta Sight Seeing with Kiddos
  • Masjid 1000 Pintu Tangerang
  • Launching Jakarta Corners Bersama Hotel Grand Zuri BSD

Ads

Categories

Archive

Latest Comments

  • Menelusuri budaya Tionghoa di Tangerang - Portal Berita Resmi Ligacapsa on Pasar Lama Kota Tangerang : Menyatunya Etnis Tionghoa Peranakan dan Warga Tangerang
  • okti on Telisik Imlek Blog Competition
  • Djangkaru Bumi on Tour Bersama Hotel Grand Zuri BSD dan Blogger
  • Menelusuri budaya Tionghoa di Tangerang | TrendingAsia on Pasar Lama Kota Tangerang : Menyatunya Etnis Tionghoa Peranakan dan Warga Tangerang
  • Blog Hijab Dan Tips Fashion Muslimah on Belanja Produk Etnis Indonesia

Sponsored by

BPMagz BPMagz BPMagz

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Contact

Jakarta - Indonesia
mail : [email protected]

Facebook Page

Facebook Page

Follow Us

Follow @JakartaCorners

Follow Instagram @JakartaCorners

Copyright © 2016 Jakarta Corners · Built on the Genesis
loading Cancel
Post was not sent - check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.