Ada banyak pintu dan ruang berkelok seperti labirin. Setiap ruang di balik pintu gelap gulita. Harus menggunakan senter jika ingin memasukinya. Bila berjalan sendiri, kemungkinan bisa tersesat dan tidak menemukan pintu keluar.
Unik dan menarik tapi mencekam, itulah gambaran sekilas tentang Masjid Nurul Yaqin. Masjid yang lebih dikenal dengan nama Masjid Pintu Seribu ini diklaim sebagai salah satu dari lima masjid terunik di Indonesia. Banyaknya pintu dan lorong gelap yang sempit, serta adanya tasbih raksasa yang tersimpan di ruang bawah tanah, merupakan keunikan yang tak biasa ada pada sebuah masjid.
Masjid Nurul Yaqin berlokasi di Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Terletak di tengah pemukiman penduduk dengan akses masuk yang sempit. Saya sendiri agak kesulitan menemukannya. Seorang warga menunjukkan jalan alternatif, namun jalan tersebut ternyata berada di pematang ladang sayur yang sempit dan tak beraspal.
Melewati jalan alternatif ternyata membuat saya tiba di bagian belakang masjid. Ada semacam lorong yang mesti saya lewati. Ujungnya berada di pintu masuk masjid. Berhadapan dengan rumah gubug sederhana, deretan pohon palm, dan lahan kecil yang digunakan untuk parkir kendaraan.
Kesan pertama melihat Masjid Pintu Seribu membuat saya urung berdecak. Bangunannya ternyata tidak semegah julukan yang disandangnya. Bangunan masjid bahkan terkesan belum jadi. Jendela dan pintu berjajar kaku. Beberapa bagian atapnya tampak rusak. Kendati terdapat menara bertingkat lima dengan kaligrafi Allah SWT dan Muhammad SAW, namun ketiadaan kubah membuatnya tidak menyerupai masjid pada umumnya.
FUNGSI RUANG
Saat memasuki bangunan di sebelah kanan, ada seorang bapak penjual senter di depan pintu. Saya diberitahu bahwa ruangan dalam masjid gelap, dan sebaiknya saya menggunakan senter untuk penerangan. Setelah membeli satu senter, saya pun masuk. Tak ada karcis yang harus dibayar. Saya hanya diminta mengisi buku tamu dan memberi sumbangan sukarela.
Di dalam ruangan dengan pencahayaan sangat rendah, saya melangkah memasuki sebuah lorong. Lorong itu serupa ruangan dengan banyak pintu di kiri kanan yang tampaknya digunakan untuk kegiatan spiritual dalam kelompok kecil atau pun sendirian. Dinding-dinding lorong dihias beragam motif. Ada kaligrafi arab dan motif serupa batik. Lantai lorong tidak dikeramik.
Di ujung lorong ada beberapa ruang bersekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola. Setiap ruangan luasnya sekitar 4 meter. Masing-masing diberi nama, yaitu: mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu.
Di ujung lorong juga terdapat ruang taklim. Bentuknya memanjang setengah terbuka. Digunakan untuk sembahyang berjamaah, zikir bersama dan kegiatan spiritual lainnya. Terdapat mimbar dan bedug tua lengkap dengan kentongannya. Di sebelah kiri ruang taklim ada makam putra pendiri Masjid Pintu Seribu, yang sering menjadi tempat ziarah para pengunjung.
Ketika berada di ruang taklim, waktu salat Dzuhur pun tiba. Saya ikut salat bersama segelintir jamaah. Usai salat, saya keluar dan pergi menuju bangunan di sebelah yang bila dilihat dari samping lebih mirip sebuah benteng. Hanya menaranya saja yang membuatnya masih mencerminkan bangunan masjid.
LABIRIN MENGGETARKAN HATI
Pintu masuk bangunan menara dipasang gembok. Menurut seorang warga, hal itu dilakukan agar tak ada tamu yang sembarangan masuk. Untuk masuk sangat disarankan bersama guide masjid. Jika tidak, bisa tersesat. Sejak awal saya tanpa guide. Bukan tidak ingin, tapi satu-satunya guide yang ada sudah bersama pengunjung lainnya.
Berbekal senter saya memasuki ruang dasar bangunan, beriringan dengan pengunjung lainnya. Melewati pintu utama, kami langsung disambut banyak lorong sempit dan gelap yang menyerupai labirin. Ruangan yang agak pengap itu biasanya digunakan untuk berdzikir dalam kelompok-kelompok dengan waktu dan jumlah orang terbatas.
Bau tanah lembab menguap dari lantai yang tidak di semen. Dinding-dinding tanpa plester dan cat, menampakkan batu bata kemerahan. Kepala harus ditundukkan dalam-dalam agar tidak terbentur langit-langit yang rendah. Dan saya harus berjalan seperti orang buta menyusuri lorong sempit berliku gelap pekat yang hanya bisa dilalui satu orang.
Sungguh. Citra masjid adalah ‘bercahaya’, memiliki noor. Tetapi di sini pencahayaan yang ada sangat rendah. Nyali saya tak cukup besar untuk menjelajah seluruh ruangan. Saya gagal melihat wujud tasbih raksasa yang tersimpan di ruang bawah tanah, juga meniti tangga demi tangga menuju bagian atas masjid. Cukuplah sampai di ruang taklim, mengerjakan salat dan bersilaturahmi dengan sesama pengunjung lainnya. Lain kali jika nyali sudah besar saya akan kembali.
SEJARAH DAN ARSITEKTUR
Masjid Nurul Yaqin berdiri di atas tanah seluas 1 hektar. Didirikan sekitar tahun 1978. Pendirinya adalah seorang warga keturunan Arab. Warga sekitar menyebutnya dengan sebutan Al-Faqir. Al Faqir ini adalah salah satu santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor yang memulai pembangunan masjid dengan membuat Majelis Ta’lim terlebih dahulu.
Al Faqir membangun masjid dengan menggunakan uang dari kantongnya sendiri. Warga sekitar pun menghormatinya, lantas memberinya gelar Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al Muqoddam. Al-Faqir ini kabarnya tidak membangun masjid di Tangerang saja, melainkan juga membangun masjid serupa di Karawang, Madiun, dan beberapa kota lain di Indonesia.
Pembangunan masjid Nurul Yaqin dilakukan secara bertahap hingga sampai pada kondisinya yang sekarang, dan tampaknya bangunannya akan terus berubah atau bertambah sesuai dengan ketersediaan dana dan imajinasi yang empunya.
Dari segi arsitektur, desain masjid tidak menampilkan corak arsitektur tertentu. Desain pintu-pintu gerbang yang sangat ornamental mengikuti ciri arsitektur zaman Baroque. Bahkan ada juga yang sangat mirip dengan arsitektur Maya dan Aztec. Di beberapa pintu masjid tampak ornamen dengan angka 999. Angka 999 itu merupakan penggabungan jumlah asma Allah yang berjumlah 99 dan 9 wali songo.
Salah satu ruang dari sekian banyak lorong di masjid menuju ruang bawah tanah yang disebut ruang tasbih. Ruang ini biasa digunakan oleh Al Faqir dan jamaah lainnya untuk ber-istiqomah. Sebuah tasbih raksasa yang terbuat dari kayu terpajang di salah satu sudut ruang berteralis besi. Masing-masing butiran tasbih berdiameter 10 cm atau sekitar kepalan orang dewasa dan di 99 butir tasbih tersebut tertulis Asmaul Husna.
Dinamakan Masjid Pintu Seribu karena tidak ada yang tahu berapa jumlah sebenarnya pintu masjid ini. Bahkan, pengelola masjid pun tidak tahu persis berapa jumlah pintu yang ada. Karena mereka tidak pernah menghitung jumlah pintu yang ada di masjid. Meski Masjid Pintu Seribu bukanlah sebuah bangunan megah dan agung yang bisa dikagumi secara fisik, namun ia menawarkan pengalaman dan perjalanan batin yang mungkin sulit dijumpai di masjid-masjid lain dengan arsitektur hebat dan mewah.
Dengan semua keterbatasannya, masjid ini menawarkan sebuah potensi perjalanan spiritual yang belum pernah saya jumpai di semua masjid yang pernah saya kunjungi. Besar harapan agar masjid ini dapat lebih dimakmurkan sehingga lebih banyak lagi jamaah yang datang untuk beribadah.
Tips:
- Area parkir kendaraan di sekitar Masjid Pintu Seribu sangat terbatas, sehingga pengunjung harus parkir di tempat yang agak jauh dari masjid ketika ada banyak tamu yang datang. Jika ingin mendapatkan tempat parkir, datanglah pagi-pagi saat masih sepi. Di hari libur, pengunjung yang datang lebih ramai.
- Senter sangat berguna untuk digunakan selama di dalam masjid. Jika tidak membawa, bisa membeli di lokasi. Harga untuk senter kecil Rp 5 ribu.
- Tidak ada rumah makan di sekitar masjid. Jika ingin menikmati kuliner, pergilah ke pusat Kota Tangerang yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit.
- Masjid Pintu Seribu dapat diakses melalui ujung Jl. Daan Mogot, lalu masuk ke Jl. Doktor Sitanala, melewati RS Kusta Sitanala, belok ke kiri ke Jl. Jembatan Pintu Sepuluh, setelah lewat jembatan yang melintang Sungai Cisadane belok ke kanan, lalu masuk Jl. Sangego Raya (Bendungan Pintu Sepuluh ada di kanan jalan), selanjutnya masuk ke Jl. Kedaung Barat – Cisadane.
- Wisata terdekat Masjid Pintu Seribu antara lain: Kelenteng Boen San Bio (4,9 km), Masjid Raya Al A’zhom (5,6 km), Bendungan Pintu Air Sepuluh (3,1 km), dan Patung Soekarno – Hatta (18,9 km).
Sudah ke Masjid seribu pintu, dan memang magis Masjidnya 😀