Launching Jakarta Corners sudah terselenggara dengan baik. Ceritanya bisa dibaca cerita di sini. Lomba blog pun sudah berlalu. Para pemenang sudah ditetapkan dan menerima hak mereka. Terakhir Hotel Grand Zuri BSD menawarkan tour untuk JC bersama para pemenang kompetisi. Tentu saja kesempatan ini tak disia-siakan. Pucuk dicinta ulam tiba. Tiba lah waktu menikmati kegembiraan Jakarta bersama teman-teman satu mahzab: Blogger.
Sabtu tanggal 14 November pagi kami berkumpul di lobby Hotel Grand Zuri BSD. Sebagian lain menunggu di tempat kunjungan pertama yaitu kawasan kota tua. Hari itu kami akan menelisik keunikan Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, dan Museum Bahari. Setelah makan siang baru lah beranjak ke Tangerang.
Sudah banyak yang menulis tentang Pelabuhan Sunda Kelapa. D’Jakartans bisa menelusurinya di internet. Namun yang jarang diungkap adalah kehidupan di belakangnya. Di belakang kapal-kapal kayu yang tengah bersandar. Setidaknya untuk saya ini pengetahuan baru. Bahwa di belakang kapal-kapal itu terdapat sekelumit usaha ikut mencicipi kue besar Sunda kelapa. Perahu-perahu kecil untuk disewakan. Coba lah berdiri di dermaga. Terima lah penawaran dari bapak-bapak pemilik perahu. Mereka akan memperlihatkan sisi lain Pelabuhan Sunda Kelapa. Berperahu diantara lambung kapal dan memandang dermaga dari arah laut.
Mumpung masih berada di Sunda Kelapa sekalian saja mencoba mendaki ke Menara Syahbandar. Nikmati bagaimana bangunan yang pernah menyandang status bangunan tertinggi di Batavia ini dulu mengawasi keadaan sekelilingnya. Apa yang kita lihat sekarang mungkin tidak sama dengan apa yang dilihat petugas mercu suar jaman dahulu. Tapi diantara lingkungan yang berubah di bawahnya ada sesuatu yang bertahan: Kekuatan Menara Syahbandar. Bagaimana jendela lebar dengan deck berlantai dan bertiang kayu-kayu jati sukses melintasi jaman sejak 1839.
Banyak yang gedung bertahan di sekitar Sunda kelapa. Peniggalan Hindia Belanda dan jadi kekayaan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah gedung yang sekarang dijadikan Museum Bahari. Melongok lah ke dalam bagaimana keahlian orang Belanda menyusun kayu jati satu persatu, menyatukannya dengan tembok, sehingga terbentuk ruang dan kolom yang mampu menceritakan dirinya sendiri.
Hotel Zuri Express Mangga Dua
Usai dari Kawasan Pelabuhan Sudan kelapa kami dijamu makan siang di Hotel Zuri Express Mangga Dua. Senang sekali rasanya. Sudah capek berkeliling lalu melepas haus dan dahaga di tempat bagus dan mendapat pelayanan ramah dari Sang GM, Pak Arief Rahmatullah. Ruang makan Kopi Express yang berisi warna-warni plus meja berhias kuntum bunga membuat suasana tambah meriah.
Sudah kenanyang. Sudah shalat. Kamipun di bawa tour berkeliling melihat semua fasilitas yang tersedia di Zuri Express Mangga Dua. Berkonsep sebagai Smart Hotel, letaknya juga strategis, tentu jadi nilai tambah bagi tamu yang sedang melakukan bisnis di kawasan ini.
Menilik ke dalam kamar konsep smart hotel, salah satunya, tercermin dari ukuran ruang yang tak terlalu besar tapi tak pula terlalu kecil. Cukup leluasa bergerak ke kanan dan kekiri. Lumayan juga untuk menyimpan barang usai belanja di Mangga Dua. Hotel Zuri Express hanya memiliki dua type untuk kamar ini: Express Room Twin dan Express Room Double. Jumlah total 124 kamar. Desain modern. Untuk menjamin kenyamanan pelanggan tersedia : Zuri Dream dari King Koil beddings, kamar mandi, sanitair, mini bar, TV LCD dan Wi-Fi gratis. Saat menulis pos ini saya cek harga kamar disitus penjualan voucher hotel online, lengkap dengan sarapan dapat harga dibawah 300 ribu rupiah per kamar.
Keren kan?
Tangerang - Masjid Pintu Seribu
Tour JC bersama Hotel Grand Zuri dan Bloggers ini benaran seru. Telisik unik sudut Jakarta and beyond. Jadi tidak salah memasukan Masjid Pintu Seribu sebagai salah satu destinasi kami. Masjid berkonsep unik yang terletak di kampung Bayur sudah terlihat berbeda dari kejauhan. Desain maupun ornamennya unik. Sebetulnya nama asli masjid ini adalah Nurul Yaqin. Namun karena banyak sekali pintu maka ia kemudian dikenal sebagai Masjid Pintu Seribu. Kalau D’Jakartans berkunjung, coba perhatikan bahwa pintu-pintu itu tak hanya terdapat di dinding luar. Di dalamnya ruang-ruang terbagi secara acak dan semuanya dihubungkan oleh pintu.
Masjid Pintu seribu terdiri dari 2 bangunan. Peziarah disambut di bangunan pertama di sayap kanan. Masuk pintu gerbang aku sudah di buat takjub. Tempatnya gelap, diatas kanopi berkaligrafi arab berbanjar dengan gambar-gambar orang suci di kiri kanan. Disitu juga ada silsilah keluarga kesultanan Banten. Sementara di sebelah kiri berisi terowongan menuju ruang gelap yang digunakan para peziarah untuk zikir dan berkentemplasi.
Tangerang - Klenteng Boen Tek Bio
Seharian menjelajahi Jakarta dan Tangerang tidak membuat teman-teman blogger kehilangan semangat. Battery mereka selalu full charged. Di destanasi terakhir, Klenteng Boen Tek Bio, klenteng tertua di Kota Tangerang, mereka masih bersemangat foto-foto. Padahal matahari sudah mulai memudar. Memang lah menilisik tiap sudut, sebatas yang diijinkan bagi pengunjung yang tak beribadah, sangat mengasyikan di sini.
Tangerang - Makan Malam di Hotel Grand Zuri BSD
Taka da pesta yang tak usai. Taka da perjalanan yang tak berakhir. Malam sekitar pukul delapan, setelah bermacet ria di Jalan Raya Serpong, akhirnya kami semua sampai di Grand Zuri BSD. Malam ini kami diundang BBQ. Karena foto berbicara seribu kata lebih keras mari kita intip …
Begitu lah. Setelah menandaskan hidangan dan memberikan voucher hadiah kepada para pemenang blog competition kami pun berpisah di lobby Hotel Grand Zuri BSD.
Selamat bertemu dengan tour berikutnya D’Jakartans 🙂
Satu hari yang menyenangkan, terimakasih sudah menuliskannya Mbak Evi. Thanks to all crew JC, D’ Jakartans, Grand Zuri BSD dan Grand Zuri Express
Aku suka dengan Sunda kelapanya. Dekat tapi aku belum pernah kesana. Seru juga acaranya.