Jakarta bersisian langsung dengan Tangerang. Kedekatan yang pernah membuat saya bingung menentukan apakah Bintaro itu masuk Jakarta atau Tangerang Selatan. Baru tahu batas-batasnya setelah menengok ke Google Maps seperti mana Bintaro yang masuk Jakarta dan mana pula Bintaro yang jadi bagian Tangerang . Karena faktor kedekatan pula banyak pekerja di Jakarta memilih tempat tinggal di Tangerang. Pertimbangannya di Tangerang harga tanah lebih murah. Dan kawasannya pun relatif kurang padat di banding ibu kota.
Maka makin ke sini Tangerang berkembang jadi metropolis sendiri. Pertumbuhan bisnis property diikuti menjamurnya bisnis kuliner. Tahu-tahu Tangerang sekarang sudah jadi tujuan wisata kuliner yang ngehits banget di kalangan pecinta makanan se Jabodetabek.
Beberapa hari lalu kakak ipar saya dari Lampung datang berkunjung ke rumah kami. Ia minta ditemani mencari makanan enak di Tangerang. Memang banyak makanan enak di sini, tinggal tentukan mau makan apa, di mana, dan kisaran harga berapa. Salah satu tempat yang sering saya rekomendasikan kepada keluarga dan teman-teman adalah Sotomie Bang Mamat di Jalan MT. Haryono. Begitu pun saat keluarga dari Bandung datang menyusul saya membawa mereka semua ke sini.
Sebenarnya apa sih yang istimewa dari Sotomie Bang Mamat Tangerang ini?
Kalau bicara lokasi jelas tak ada istimewanya. Sotomie Bang Mamat mangkal di mulut gang dengan gerobak menempel ke dinding bangunan. Meja untuk para tamu tak begitu luas, juga menempel ke dinding, memanjang sejajar gerobak, berbangku kayu, diberi terpal biru sekedar menghindarkan pelanggan dari panas dan hujan.
Namun kalau bicara tentang rasa, menurut saya, Sotomie bang Mamat Tanggerang juara. Gurih kuahnya lebih dalam dari sekedar MSG. Untuk memastikan saya interview asisten Bang Mamat. Menurut Mas yang murah senyum itu, kuah soto berasal dari air rebusan daging sapi asli yang tambah bumbu-bumbu istimewa. “Ini dia dagingnya” Katanya menunjuk teman sebelah yang sedang mengiris daging.
Sebelum sotomie diramu, saya ditanya apakah topping mau daging semua atau campur dengan kikil? Biasanya saya tidak makan kikil. Tapi kemarin tergoda mencoba karena semua angota rombongan meminta sotomie mereka diberi kikil. Emang enak kalau diberi kikil. Kriuk-kriuk saat digigit. Kita juga boleh memilih risolesnya mau separuh mengikuti standar atau satu utuh (harga tentu akan disesuaikan).
Yang paling saya sukai dari Sotomie Bang Mamat Tangerang ini adalah ia menggunakan jeruk limo alih-alih asam cuka. Rasa asam dalam kuah sotomie itu penting. Menentukan kualitas rasa keseluruhan. Tapi kita tak mau juga mengalami keropos tulang dini karena asam cuka, bukan? Nah keistimewaan lain dari jeruk limo, aromanya langsung mendera penciuman saat diperaskan ke dalam mangkuk sotomie panas yang sedang ngebul-ngebul. Air ludah langsung saja encer. Apa lagi saat disuap: Gurih, asam, dan manis dari kecap Benteng khas Tangerang menyerbu pencecap rasa. Nah bagi yang sedang lapar sangat Sotomie Bang Mamat Tangerang juga menyediakan nasi putih lho.
Omset dan Harga
Untuk memperkirakan kepopuleran Sotomie Bang Mamat Tangerang ini mari kita analisa dari omsetnya. Memang sih Sang Asisten tidak mengungkap secara gamblang berapa rupiah omset mereka per-hari. Dengan harga Rp.13.000/mangkuk dan rata-rata habis 350 mangkuk/perhari, itu sama dengan Rp. 4.550.000. Terus kalau sebulan ada 30 hari = Rp. Rp.136.500.000. Wow untuk bisnis yang mangkal di mulut gang dan menempel di dinding bangunan, omset ini mendebarkan.
Pelayanan yang ramah
Sekalipun Sotomie Bang Mamat Tangerang bisnis tepi jalan namun service mereka bintang 3. Mas-mas yang melayani sangat ramah. Begitu tahu saya akan memotret suasana langsung heboh. Mereka bercanda bersahut-sahutan seolah akan masuk TV. Sementara yang punya, Bang Mamat asli, mengawasi saja sambil senyum-senyum kelakukan saya dan anak buahnya dari jauh.
Ah semoga bertambah laris Sotomienya Bang Mamat.
Alamat :
Sotomie Bang Mamat Tangerang
Jl. MT. Haryono
Buka dari pukul 7 pagi sampai habis
Leave a Reply